Dukung Pemberantasan TB, PATTIRO Jalin Kerjasama Dengan KNCV

1621518ThinkstockPhotos-509231332780x390Penderita tuberculosis (TB) di Indonesia menempati peringkat dua dunia, hal itu berdasarkan laporan Tuberkulosis Global 2014 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang telah direvisi di tahun 2015. Data tersebut menyebutkan bahwasanya data kasus di Indonesia meningkat 10% terhadap kasus seluruh kasus di dunia, yakni satu juta kasus baru per tahun.

Data tersebut menunjukan betapa daruratnya kesehatan di Indonesia, apalagi TB merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan saluran pernapasan, penyakit TB juga tidak memilih usia dalam menyerang dan ia menjadi penyakit nomor wahid bagi penyakit infeksi.

Keadaan mengkhawatirkan itu bukan tanpa penanggulangan, sudah sejak 1969 pemberantasan TB paru dilangsungkan, sayangnya hasil yang ditunjukan belum memuaskan. Dari itu, Kementrian Kesehatan RI tidak ingin ketidakpuasan terus berlanjut. Maka sejak 2016, kepedulian terhadap pemberantasan TB terus ditingkatkan dengan mendorong adanya Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Kepala Daerah (Perkada) dan anggaran yang memihak pada pemberantasan TB.

Bentuk lain dari keseriusan Kemenkes RI ialah, dengan penguatan peran dan partisipasi masyarakat melalui monitorin warga, audit sosial dan serangkain upaya pengawasan lainnya. 

Dalam rangka mendukung langkah pemerintah, Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) menyatakan diri siap ikut berperan aktif dalam memberantas TB, “Memberantas TB tidak cukup pemerintah seorang, perlu dukungan dari berbagai komponen masyarakat, dan kami dari organisasi masyarakat sipil siap mempercepat pemberantasan TB,” tutur Direktur Eksekutif PATTIRO, Maya Rosatanty.

Maya mengatakan, bersama Yayasan KNCV, PATTIRO akan mengadvokasi beberapa Pemerintah Daerah untuk segera menyusun aturan daerah mengenai TB, yakni Bandung, Jayapura, Jember dan Solo.

Selain advokasi, PATTIRO juga akan melakukan peningkatan kapasitas kepada CSO untuk dapat ikut melakukan advokasi anggaran daerah terkait penanggulan TB, ““Semoga dalam tiga bulan bisa terlihat hasilnya,” tandas Maya.

(AR)

Penderita tuberculosis (TB) di Indonesia menempati peringkat dua dunia, hal itu berdasarkan laporan Tuberkulosis Global 2014 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang telah direvisi di tahun 2015. Data tersebut menyebutkan bahwasanya data kasus di Indonesia meningkat 10% terhadap kasus seluruh kasus di dunia, yakni satu juta kasus baru per tahun.

 

Data tersebut menunjukan betapa daruratnya kesehatan di Indonesia, apalagi TB merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan saluran pernapasan, penyakit TB juga tidak memilih usia dalam menyerang dan ia menjadi penyakit nomor wahid bagi penyakit infeksi.

 

Keadaan mengkhawatirkan itu bukan tanpa penanggulangan, sudah sejak 1969 pemberantasan TB paru dilangsungkan, sayangnya hasil yang ditunjukan belum memuaskan. Dari itu, Kementrian Kesehatan RI tidak ingin ketidakpuasan terus berlanjut. Maka sejak 2016, kepedulian terhadap pemberantasan TB terus ditingkatkan dengan mendorong adanya Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Kepala Daerah (Perkada) dan anggaran yang memihak pada pemberantasan TB.

 

Bentuk lain dari keseriusan Kemenkes RI ialah, dengan penguatan peran dan partisipasi masyarakat melalui monitorin warga, audit sosial dan serangkain upaya pengawasan lainnya. 

 

Dalam rangka mendukung langkah pemerintah, Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) menyatakan diri siap ikut berperan aktif dalam memberantas TB, “Memberantas TB tidak cukup pemerintah seorang, perlu dukungan dari berbagai komponen masyarakat, dan kami dari organisasi masyarakat sipil siap mempercepat pemberantasan TB,” tutur Direktur Eksekutif PATTIRO, Maya Rosatanty.

 

Maya mengatakan, bersama Yayasan KNCV, PATTIRO akan mengadvokasi beberapa Pemerintah Daerah untuk segera menyusun aturan daerah mengenai TB, yakni Bandung, Jayapura, Jember dan Solo.

 

Selain advokasi, PATTIRO juga akan melakukan peningkatan kapasitas kepada CSO untuk dapat ikut melakukan advokasi anggaran daerah terkait penanggulan TB, ““Semoga dalam tiga bulan bisa terlihat hasilnya,” tandas Maya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah

2017.06.KartuIdulFitri1438H

Langit bertabuh sambut fajar Syawal
Izinkan lentera kemenangan ini
Kami bubuhkan ungkapan syukur dan maaf
Mari rayakan kebersamaan ini penuh nikmat
Inilah kemenangan dan kebahagiaan tiada tara.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H

Bersama ini, kami informasikan bahwa aktifitas PATTIRO akan diliburkan mulai tanggal 22 Juni 2017 dan akan kembali beraktifitas pada tanggal 3 Juli 2017

Jika membutuhkan informasi, silahkan menghubungi kami di surel info@pattiro.org, kami akan meresponnya pada tanggal 3 Juli 2017.

Terima Kasih.
Salam hangat