Kilas Balik Perintisan Wisata Pedesaan di Desa Limbangan
Saat lingkungan Limbangan dan sekitarnya masih memprihatinkan, banyak sekali keanekaragaman hayati yang telah hilang, punah atau tinggal sedikit. Banyuwindu -salah satu dusun di Desa Limbangan yang berbatasan langsung dengan hutan- merupakan mutiara yang terpendam. Jika tidak dirawat mungkin hanya beberapa tahun ke depan keanekaragaman hayati yang ada di Banyuwindu akan rusak. Melihat hal itu muncul wacana untuk melestarikan dan membuat Banyuwindu sebagai daerah wisata alam yang tidak merubah bentuk atau keadaan sosial masyarakat setempat.
Persyarikatan Sekolah Rakyat (SR) telah memulainya dengan mengundang wisatawan dan juga bekerjasama dengan komunitas-komunitas yang berperhatian tinggi terhadap kelestarian alam.
Untuk urusan yang berkaitan dengan wisata, di sini SR perperan sebagai:
- Guide untuk wisatawan yang datang
- Penyebar Informasi
Wisatawan yang datang akan dijemput di Bandara atau Stasiun di Kota Semarang, selanjutnya akan diantar ke Banyuwindu ditempatkan di rumah penduduk setempat. Sebelumnya SR melakukan sosialisasi mengenai hal yang akan dilakukan oleh wisatawan maupun penduduk Banyuwindu. SR akan mempromosikan kepada wisatawan sesuai paket yang akan diambil oleh wisatawan. Paket 1 hari, paket 2 hari maupun yang lainnya. Pembayaran akan dilakukan di markas SR. Mengenai tempat tinggal, wisatawan akan ditempatkan di rumah penduduk, makan akan disesuaikan dengan makanan yang dimakan oleh pemilik rumah.
Wisatawan akan ditawarkan paket wisata sesuai budaya masyarakat, contohnya:
- Deres badeg aren
- Melihat orang mencangkul, membajak sawah dengan kerbau
- Melihat orang tandur padi, cari kayu
- Melihat hutan dan satwa liar
- Tracking ke gunung watu, kedung talang, gua batu pipih, dll.
Ide ini sudah cukup lama muncul dan terus menguat sedikit demi sedikit saat kunjungan kawan-kawan dan sahabat Sekolah Rakyat pada tahun 2008. Sekarang, sudah terlihat ada beberapa paket wisata yang terjual, baik kepada wisatawan asing maupun kepada wisatawan domestik dari luar pulau, dan yang paling sering adalah dari sekolah-sekolah di Kota Semarang.
Salam konservasi!

