Dusun Jengkol terletak jauh di balik bukit, untuk menjangkaunya kita harus melewati jalan terjal bebatuan, naik turun bukit yang licin di musim hujan, serta menyeberangi sungai selebar 25 Meter. Dusun Jengkol dengan desanya dipisahkan oleh sungai tersebut. Secara administratif, Dusun Jengkol terletak di Desa Kedungboto, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Dusun tersebut ditempati oleh sekitar 144 Kepala Keluarga dengan keseluruhan penduduknya berjumlah 491 jiwa.
Sulitnya akses menuju dan dari Dusun ini berakibat pada minimnya akses Kesehatan bagi Warga. Salah satu persoalan adalah tidak adanya jembatan yang menghubungkan antara kedua sebrang sungai, serta tidak adanya jalan yang bisa dilalui oleh kendaraan (baik roda dua maupun roda empat). Untuk menjangkau jalan utama Desapun, warga harus berjalan kaki sejauh 2 Km. Sedangkan untuk mendatangi Puskesmas Desa, warga harus berjalan kaki sejauh 2 Kilometer (termasuk menyeberangi sungai) yang dilanjutkan dengan naik angkutan umum sejauh 3 Kilometer. Sedangkan untuk mendatangai Puskesmas Kecamatan, warga harus menempuh jarak lebih jauh lagi, hingga total sejauh 12 Kilometer.
Akibatnya, banyak kasus-kasus penanganan kesehatan warga yang tidak tertangani. Dalam 6 tahun terakhir, hampir setiap tahun terdapat kejadian ibu melahirkan/bayi yang dilahirkan meninggal dunia akibat terlambat mendapatkan penanganan medis. Kasus terakhir menimpa seorang ibu bernama Ayem, yang meninggal akibat pendarahan yang terlambat tertangani secara medis.
Pak Mestari, 36 tahun, adalah satu-satunya warga Dusun Jengkol yang saat mengenyam pendidikan hingga tamat SMP. Saat Pemilihan Kepala Dusun (KaDus), Pak Mestari dijemput oleh sejumlah warga dusun untuk diajukan menjadi salah satu Calon Kadus. Berkat bujukan dan pengharapan warga, Pak Mustari yang saat itu merantau sebagai buruh pabrik di daerah Cibinong akhirnya memenuhi permintaan warga untuk kembali membangun Dusunnya. Karena didukung oleh sebagian besar warga, akhirnya Pak Mustari terpilih menjadi Kepala Dusun Jengkol.
Sebagai KaDus, Pak Mestari selalu berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan-permasalahan Dusun tersebut, termasuk mengusulkan pembangunan jembatan melalui petinggi desa, namun upaya tersebut selalu melalui jalan buntu. Hingga suatu hari Pattiro mengenal Pak Mustari dan mengajak untuk bergabung dalam Community Center. Pak Mustari mengajak warga lainnya untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan Community Center yang difasilitasi Pattiro.
Melalui diskusi-diskusi bersama Community Center, Pak Mustari dan warga Jengkol terbuka wawasannya untuk mulai berhubungan dengan pihak lain, termasuk membawa persoalan warga tersebut dalam forum-forum diskusi yang juga menghadirkan pembuat kebijakan, baik di tingkat kecamatan, maupun Kabupaten. Salah satu forum yang diikuti oleh Pak Mustari adalah saat Pattiro beraudiensi dengan Komisi A DPRD. Di forum tersebut, Pak Mustari mengemukakan permasalahannya, namun anggota dewan menanggapinya secara biasa saja, bahkan membandingkannya dengan daerah lain yang juga mengalami kesulitan yang sama.
Tanpa putus asa, Pak Mustari dan warganya terus mencari jalan keluar bagi masalah di Dusunnya. Melalui informasi dari mulut ke mulut, Dusun jengkol menjadi salah satu daerah sasaran program kepedulian masyarakat dari Akademi Perawat Sultan Agung Semarang. Hasil dari Bakti Sosial yang digelar oleh Akper itu kemudian disalurkan untuk dana pembangunan jembatan Dusun Jengkol tersebut. Hingga suatu saat, Universitas Negeri Semarang (UNNES) pun menjadikan Dusun Jengkol sebagai salah satu area KKN (Kuliah Kerja Nyata) bagi mahasiswanya. Setelah KKN Usai, mahasiswa UNNES tersebut berinisitaif untuk membuat proposal pembangunan jembatan ke pihak universitas. Akhirnya pihak Universitas memberikan bantuan berupa material/bahan untuk pembuatan jembatan dan membuatkan gambar rancang bangun jembatan bagi Dusun tersebut.
Setelah mendapat bantuan material tersebut, warga bergotong-royong untuk membangun jembatan tersebut melelui kerja bhakti rutin, seperti membendung aliran sungai, mencari batu-batuan dan sebagainya. Melalui informasi seorang anggota CC di dusun lain, warga di dusun Sampangpun turut berame-rame membantu warga dusun Jengkol dalam beberapa kali kerja bhakti yang digelar setiap minggunya.
Hingga dalam salah satu pekan kerja Bhaktinya, Pak Mustari atas bantuan Pattiro mengundang beberapa wartawan media, dan hanya satu wartawan yang datang ke tempat tersebut. Akhirnya, persoalan minimnya akses jalan dan pembangunan jembatan di Dusun tersebut dimuat oleh salah satu media lokal di Jawa Tengah, yakni Suara Merdeka. Dengan dimuatnya berita persoalan Dusun tersebut di media, akhirnya Pemerintah Kabupaten meresponnya dengan memberikan bantuan berupa material, sama halnya dengan Pemerintah Provinsi. Akhir kisah, jembatan Dusun itupun terbangun, meskipun tidak semegah yang dibayangkan, namun telah dapat dilalui oleh kendaraan roda empat sekalipun.
Sumber : Pengalaman masyarakat mengakses informasi” Buku Panduan Masyarakat Mendapatkan Informasi” Program “Penguatan Kapasitas Warga untuk Kebebasan Informasi di Tingkat Lokal” (Hivos) 2009-2010


