ADA suasana yang berbeda di Dusun Banyuwindu, Desa/Kecamatan Limbangan, Kendal.
Dusun di kawasan perbukitan dengan dikelilingi hutan lindung tersebut biasanya cenderung lengang, namun beberapa hari ini banyak dijumpai puluhan anak muda yang sibuk beraktivitas.
Hilir mudik mereka masuk ke hutan lindung, serta kembali ke perkampungan. Sebagian dari anak-anak muda tersebut adalah pendatang, sudah tiga hari ini (23-25 Oktober) mereka berada di sana untuk mengikuti lomba konservasi habitat burung.
Peserta lomba dibagi dua kategori yakni siswa SMP-SMA dan mahasiswa/umum. Selain melibatkan warga setempat, kegiatan ini juga memperoleh dukungan dari LSM Patiro, Semarang Bird Comunity, serta mahasiswa Unnes Semarang jurusan Biologi.
’’Selain misi konservasi alam, khususnya kelestarian burung, kegiatan ini sebagai implementasi pengabdian kepada masyarakat. Kita juga ingin membagi pengetahuan kepada teman-teman siswa SMP-SMA tentang spesies burung di habitatnya yang alami,’’ kata Yuliana Rahmawati, mahasiswi Biologi Unnes.
Saat mengikuti kegiatan, para peserta membawa peralatan yang dibutuhkan. Seperti teropong, alat tulis dan bahkan kamera ’’SLR’’ yang dilengkapi lensa yang memadai. ’’Kriteria penilaian lomba antara lain, selain mengamati burung, peserta juga harus mendeskripsikan jenis burung yang diamati itu. Sejauhmana mereka mengetahui jenis burung, yang kemudian dipresentasikan di depan juri.’’
Koordinator Semarang Bird Comunity, Karyadi Baskoro menjelaskan Dusun Banyuwindu merupakan salah satu jalur perlintasan rutin setiap tahunnya bagi beberapa spesies burung. Dusun tersebut juga mempunyai kawasan hutan lindung yang dijaga masyarakat setempat, termasuk menjaga satwa di dalamnya. ’’Ada tiga jenis burung yang melintasi dusun ini, yakni Sikep Madu Asia, Elang Alap China dan Elang Alap Jepang. Ketiga jenis burung memulai migrasi dari Asia Utara, saat negara di sana sedang musim dingin.’’
Untuk mencari makanan, burung bergerak secara alami ke Asia Tenggara menempuh jarak ribuan kilometer melewati Vietnam, Malaysia, hingga ke Indonesia (Sumatera, Jawa, Bali dan NTB). ’’Migrasi burung tersebut dalam jumlah besar melewati tiga jalur di Jawa, yakni utara, selatan dan tengah. Di Dusun Banyuwindu adalah jalur tengah migrasi.’’
Makanan bagi burung-burung pemangsa tersebut antara lain, burung-burung kecil, reptil, serta tikus. Setelah berburu makanan di sejumlah wilayah tanah air, burung-burung tersebut kembali ke Asia Utara -saat negara-negara di sana telah memasuki musim semi dan panas, untuk kemudian berkembang biak.
Pegiat dari Patiro, Endri Priyanto menambahkan masyarakat Desa Limbangan sejak bertahun-tahun lalu telah memiliki komitmen untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan mereka.
Komitmen bersama tersebut dituangkan dalam bentuk peraturan desa (Perdes) mengenai lingkungan hidup. ’’Di dalam perdes ini antara lain diatur larangan menangkap burung, mencari ikan dengan cara diracun dan memakai aliran listrik, larangan menebang pohon di lahan umum,’’ kata warga Limbangan itu.
Dia mengemukakan, apabila ada warga (setempat atau dari luar daerah) dipergoki melanggar aturan, maka yang bersangkutan dikenai sanksi seperti yang telah diatur dalam perdes. ’’Perdes juga mengatur larangan untuk berburu. Hutan lindung Banyuwindu, sampai saat ini masih terdapat beberapa satwa langka, misalnya, lutung, kijang, ular sanca, beragam burung, dan bahkan harimau pohon.’’ (Setyo Sri Mardiko-16)
Suara Merdeka Cetak, 27 Oktober 2009


eman ra dike’i foto2
admin-e ora diwenehi poto… piye jal?