Revisi UU ASN Dinilai Hanya Untungkan Kelompok Tertentu

direktur-eksekutif-pusat-telaah-dan-informasi-regional-pattiro-maya-rostanty-dalam-diskusi-revisi-uu-asn-di-hotel-ibis-tamarin-rabu-28-foto-mesya-mohammadjpnn

jpnn.comJAKARTA - UU Aparatur Sipil Negara (ASN) dinilai belum layak direvisi.

Selain masih baru, PP yang merupakan turunan uu ini belum juga diterbitkan. Dari 11 RPP ASN yang disiapkan pemerintah, baru dua ditetapkan.

“Kami rasa terlalu dini kalau UU ASN direvisi. Apalagi uu ini belum dilaksanakan. Kan lucu belum digunakan tapi sudah mau direvisi,” kata Direktur Eksekutif Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) Maya Rostanty dalam diskusi Revisi UU ASN di Hotel Ibis Tamarin, Rabu (2/8).

Dari hasil diskusi dengan sejumlah pihak, lanjut Maya, ada dua kelompok yang sangat berkepentingan hingga mendesak II ASN direvisi.

Pertama kelompok honorer dan PTT yang minta di PNS-kan. Kedua, kelompok kepala daerah yang terancam tidak bisa menjalankan praktik jual beli jabatan karena adanya sistem terbuka untuk JPT (jabatan pimpinan tinggi).

“Parahnya, keberadaan Komisi ASN (KASN) ditiadakan dalam revisi uu tersebut. Hal ini tentu saja membuat sistem merit tidak bisa dilaksanakan,” ujarnya.

Program Manager PATTIRO Wawanudin menambahkan, pengawal implementasi mestilah lembaga yang terlepas dari pembuat atau pelaksana kebijakan, yakni KASN.

“KASN adalah lembaga independen, langsung bertanggung jawab kepada presiden. Karena itu usulan menghapus KASN melalui revisi UU ASN dan kewenangannya kembali dilimpahkan kepada KemenPAN-RB tidak tepat,” tegasnya. (esy/jpnn)

www.jpnn.com/news/revisi-uu-asn-dinilai-hanya-untungkan-kelompok-tertentu?

Direktur PATTIRO: Revisi UU ASN Terlalu Dini

PATTIRO-MenolakRUUASN-MetroTV

Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) Maya Rostanty (Tanty) menolak rencana revisi UU Aparatur Sipil Negara (ASN). Tanty memandang rencana revisi terburu-buru mengingat UU tersebut baru disahkan 2014.

“Revisi ini kami pandang terlalu dini,” tegas Tanty saat berkunjung ke Kompleks Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat, Selasa 22 Agustus 2017.

Tanty menjelaskan, DPR sebagai pelempar wacana revisi sebaiknya memberi ruang pemerintah melaksanakan UU ASN ketimbang mengubah. Apalagi, peraturan pemerintah (PP) masih belum semuanya dirampungkan.

“Lebih baik regulasi turunannya (PP) terbit dan UU bisa dilaksanakan dulu. Kalau tidak pas, ya (revisi dilakukan) memang setelah dilaksanakan. Ini kan belum terlaksana,” ucap Tanty.

Revisi juga dianggap menghambat reformasi birokrasi yang menjadi salah satu nawacita pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla. Pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam birokrasi bakal terseok apabila pembenahan terganjal regulasi.

Salah satu poin yang cukup signifikan ialah penghapusan Komisi ASN (KASN). Padahal, lembaga itu dibentuk untuk mengawasi sistem merit. Sistem merit mengawasi kebijakan manajemen ASN berdasarkan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar.

Selain itu, jelas Tanty, DPR juga fokus pada pengangkatan honorer sebagai ASN secara otomatis. Tingginya concern DPR soal itu memunculkan kecurigaan isu ini bisa dipolitisasi karena tahun politik segera tiba.

Pengangkatan honorer secara otomatis juga bisa menimbulkan beban baru bagi pemerintah. “Kalau (revisi) ini jadi, menambah beban keuangan negara. Ini juga mencederai sistem merit (di mana) semua harus ikut seleksi,” tegas Tanty.

Program Manager PATTIRO Wawanudin membeberkan, dalam revisi, hilangnya KASN bakal mengembalikan kewenangan dan fungsi kepada Kementerian PAN RB. Setidaknya, ada 19 pasal yang dihapus terkait itu.

Wawan menganggap akan sangat lucu apabila Kementerian PAN RB mengawasi dirinya sendiri. “Jeruk makan jeruk.”

Pengawas, jelas Wawan, harus independen dan netral untuk memastikan sistem merit berjalan baik. Ia mengkhawatirkan arah merit sistem bila dilaksanakan oknum-oknum yang juga berada dalam lingkup ASN.

(OJE)

Sumber:

http://news.metrotvnews.com/politik/Dkq6gnQK-direktur-pattiro-revisi-uu-asn-terlalu-dini

Dirgahayu Republik Indonesia ke 72

PATTIRO-WEB-HUTRI72-500PX

Kehormatan hidup bukanlah ditentukan seberapa tinggi pendidikan, seberapa banyak ijazah akademismu, seberapa banyak bintang-bintang jasa bertaburan di dadamu, tapi kehormatan hidup itu ada ketika namamu melekat di hati orang-orang sekitarmu, kerjamu bermanfaat untuk rakyat banyak, dan doamu tiap bangun tidur memohon agar hari ini lebih baik dari hari kemarin.